Rabu, 19 September 2012

RANTAU ANAK KUANTAN


Pemandangan itu tak biasanya kudapatkan. Harus rela adu cepat dengan binatang-binatang yang ada di sekitarnya untuk memperjuangkan sehela nafasnya, mungkin juga keluarganya. Pagi itu ku terbangun oleh suara adzan yang berdesakan masuk lewat lubang kecil ventilasi kamar kostku yang baru ini. Perbedaan yang sangat jauh ku rasakan di sini. Begitu dingin air wudhu yang menjamah mukaku, ditambah bekunya embun yang tak henti menggerumuni anggota tubuhku yang didapatinya. Shubuh ini sangat cepat kurasakan dari biasanya. Pukul  4 pagi. Padahal jauh di barat seberang pulau sana, aku mendapati air kuantan di atas jam 5 pagi. Sampai beginikah istimewanya Yogyakarta?
Langkahku menuju kost dari tempat pertemuan dengan-Nya tadi sempat terhenti. Bukan bau yang tak bersahabati tadi yang membuat kakiku memandang ke arah itu. Melainkan kerusuhan dari balik bau itu. Sesuatu yang melayang berwarna putih itu ingin membuat kain sarung yang ku kenakan ini terangkat dam membawa tubuhku lari dari penglihatan itu. Tapi ini tidak biasa, memaksaku bertahan memperhatikannya. Karena ada beberapa anjing yang juga ikut meramaikan kerusuhan dari balik aroma yang membuat laparku hilang di pagi ini. Ternyata benar. Sesuatu berwarna putih itu bukan melayang. Melainkan ada di atas pundak lelaki yang membuat tegaknya tak lagi gagah itu.  Ya, digendong. Tangannya mengais-ngais mencari apa yang semua orang tidak menggunakannya lagi. Tetapi bukan sekali, berkali-kali sampai ranjang yang digendongnya penuh. Bahkan tumpukan kotak makanan yang sedang dinikmati baunya oleh seekor anjing itu dihampirinya, bahkan dibawanya dengan ranjang yang telah sesak oleh kumpulan plastik tadi. Tidak jauh dari onggokan sampah yang menggunung di bawah kaki gunung merapi yang berlainan pesonanya, terlihat seorang bocah laki-laki dengan wajah menyambut kedatangan lelaki yang membawa bekas kotak makanan tadi. Tidak. Kejadian yang selama ini tidak pernah kulihat secara langsung membuat perasaanku merasakan fitrahnya hati ini. Pikiranku bergerilya sepanjang perjalananku menuju kostku yang tidak lama lagi ku letakkan sendal jepitku di depan pitunya.
Dinginnya air di Djokja membuatku enggan beringsut dari hangatnya sleeping bed yang ku pinjam dari kakakku. Mataku masih saja melihat ke dalam pikiranku tentang apa yang kulihat di pagi ini. Memaksaku untuk mengingat kepribadiannya, Ayah. Apakah ayahku juga sesulit itu untuk menafkahi anaknya yang mulai beranjak meninggalkan masa indahnya SMA. Walaupun tidak ada kehidupan yang ku lihat di tanahku sana, negeri yang dibelah oleh indahnya sungai kuantan yang menjadi nafas bagi tanah yang menyatu dengannya. Tapi tidak ada yang menjamin bahwa seorang ayah tidak melakukan hal yang sama seperti itu untuk orang-orang yang dicintainya. sungguh, cara lelaki tadi mencarikan makanan untuk anaknya mengingatkanku tentang sosok yang selalu menjadi panutanku, yang mendidik mencoba menjadikanku yang terbaik. Ingin rasanya ku berbaur dengan tetes keringat lelaki tadi dan menyapa raut wajah anaknya. Meski tidak banyak perubahan yang ku berikan kepada mereka, setidaknya ku bisa melukis indah senyuman di wajah-wajah itu sebagaimana indahnya lingkar pelangi yang menggodaku untuk melihatnya di pagi ini lewat jendela kostku yang belum sempat ku bersihkan. Ingin rasanya kubersihkan jendela ini dan kehidupan seperti tadi. Berbagi dengan mereka. meskipun sedikit bagiku, setidaknya mereka beranggapan itu cukup. Setidaknya impianku ini tidak terpenjara seperti ragaku yang sekarang terperangkap dalam sempitnya kost yang kurasakan. Tetapi tetap hatiku merasa lapang dengan limpahan rasa syukur kepada-Nya atas anugrah hidup yang lebih baik, setidaknya lebih baik dari apa yang kulihat di pagi yang indah ini. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar