Pemandangan itu tak biasanya
kudapatkan. Harus rela adu cepat dengan binatang-binatang yang ada di
sekitarnya untuk memperjuangkan sehela nafasnya, mungkin juga keluarganya. Pagi
itu ku terbangun oleh suara adzan yang berdesakan masuk lewat lubang kecil
ventilasi kamar kostku yang baru ini. Perbedaan yang sangat jauh ku rasakan di
sini. Begitu dingin air wudhu yang menjamah mukaku, ditambah bekunya embun yang
tak henti menggerumuni anggota tubuhku yang didapatinya. Shubuh ini sangat cepat
kurasakan dari biasanya. Pukul 4 pagi.
Padahal jauh di barat seberang pulau sana, aku mendapati air kuantan di atas jam 5 pagi. Sampai beginikah istimewanya Yogyakarta?
Langkahku menuju kost dari tempat
pertemuan dengan-Nya tadi sempat terhenti. Bukan bau yang tak bersahabati tadi
yang membuat kakiku memandang ke arah itu. Melainkan kerusuhan dari balik bau
itu. Sesuatu yang melayang berwarna putih itu ingin membuat kain sarung yang ku
kenakan ini terangkat dam membawa tubuhku lari dari penglihatan itu. Tapi ini
tidak biasa, memaksaku bertahan memperhatikannya. Karena ada beberapa anjing
yang juga ikut meramaikan kerusuhan dari balik aroma yang membuat laparku
hilang di pagi ini. Ternyata benar. Sesuatu berwarna putih itu bukan melayang.
Melainkan ada di atas pundak lelaki yang membuat tegaknya tak lagi gagah
itu. Ya, digendong. Tangannya
mengais-ngais mencari apa yang semua orang tidak menggunakannya lagi. Tetapi
bukan sekali, berkali-kali sampai ranjang yang digendongnya penuh. Bahkan
tumpukan kotak makanan yang sedang dinikmati baunya oleh seekor anjing itu
dihampirinya, bahkan dibawanya dengan ranjang yang telah sesak oleh kumpulan
plastik tadi. Tidak jauh dari onggokan sampah yang menggunung di bawah kaki
gunung merapi yang berlainan pesonanya, terlihat seorang bocah laki-laki dengan
wajah menyambut kedatangan lelaki yang membawa bekas kotak makanan tadi. Tidak.
Kejadian yang selama ini tidak pernah kulihat secara langsung membuat
perasaanku merasakan fitrahnya hati ini. Pikiranku bergerilya sepanjang
perjalananku menuju kostku yang tidak lama lagi ku letakkan sendal jepitku di
depan pitunya.
Dinginnya air di Djokja membuatku
enggan beringsut dari hangatnya sleeping bed yang ku pinjam dari kakakku.
Mataku masih saja melihat ke dalam pikiranku tentang apa yang kulihat di pagi
ini. Memaksaku untuk mengingat kepribadiannya, Ayah. Apakah ayahku juga sesulit
itu untuk menafkahi anaknya yang mulai beranjak meninggalkan masa indahnya SMA.
Walaupun tidak ada kehidupan yang ku lihat di tanahku sana, negeri yang dibelah
oleh indahnya sungai kuantan yang
menjadi nafas bagi tanah yang menyatu dengannya. Tapi tidak ada yang menjamin
bahwa seorang ayah tidak melakukan hal yang sama seperti itu untuk orang-orang
yang dicintainya. sungguh, cara lelaki tadi mencarikan makanan untuk anaknya
mengingatkanku tentang sosok yang selalu menjadi panutanku, yang mendidik
mencoba menjadikanku yang terbaik. Ingin rasanya ku berbaur dengan tetes
keringat lelaki tadi dan menyapa raut wajah anaknya. Meski tidak banyak
perubahan yang ku berikan kepada mereka, setidaknya ku bisa melukis indah
senyuman di wajah-wajah itu sebagaimana indahnya lingkar pelangi yang
menggodaku untuk melihatnya di pagi ini lewat jendela kostku yang belum sempat
ku bersihkan. Ingin rasanya kubersihkan jendela ini dan kehidupan seperti tadi.
Berbagi dengan mereka. meskipun sedikit bagiku, setidaknya mereka beranggapan
itu cukup. Setidaknya impianku ini tidak terpenjara seperti ragaku yang
sekarang terperangkap dalam sempitnya kost yang kurasakan. Tetapi tetap hatiku
merasa lapang dengan limpahan rasa syukur kepada-Nya atas anugrah hidup yang
lebih baik, setidaknya lebih baik dari apa yang kulihat di pagi yang indah ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar